Dimana Saja Jalur MRT dan LRT yang ada di Jakarta? Ini Informasinya

Kalau bicara soal kondisi jalanan, banyak orang pasti bilang Jakarta itu semrawut. Ya, bagaimana tidak, jalan-jalan di sana setiap harinya mengalami kemacetan. Sebagai ibu kota negara, Jakarta memang menjadi pusat ekonomi. Meski macet dan bahkan sering banjir, hal itu tak menyurutkan niat orang-orang dari daerah untuk merubah nasib di Jakarta.

Di lain sisi, banyaknya perantau membuat populasi penduduk di Jakarta semakin padat menyebabkan arus lalu lintas begitu ramai dan macet setiap harinya. Baik pemerintah provinsi maupun pusat masih berupa mengatasi masalah kemacetan di Jakarta. Salah satunya dengan membangun MRT (Mass Rapid Transit), yakni sistem transportasi transit cepat menggunakan kereta rel listrik. Selain itu, sedang dibangun pula jalur LRT (Light Rail Transit) yang terhubung dengan kota-kota penyangga Jakarta.


Jalur MRT fase 1 sudah rampung. Jalurnya dimulai dari Lebak Bulus – Fatmawati – Cipete Raya – Haji Nawi – Blok A – Blok M – Sisingamangaraja – Senayan – Istora – Bendungan Hilir – Setiabudi – Dukuh Atas – Bundaran HI. Dengan selesainya fase 1 ini, warga Jakarta bisa menempuh Lebak Bulus ke Bundaran HI hanya dalam waktu 30 menit.

Namun PT MRT belum membuka layanan MRT secara resmi. Layanan kereta bawah tanah itu rencananya akan dibuka secara resmi akhir Maret 2019. Namun, masyarakat bisa menikmati layanan MRT di masa percobaan. Siapa saja yang ingin mencoba MRT bisa melakukan pendaftaran mulai tanggal 5-23 Maret 2019 secara online di situs www.jakartamrt.co.id atau www.ayocobamrtj.com.

Setelah berhasil mendaftar, pendaftar akan memperoleh Quick Response (QR) Code sebagai bukti yang harus dibawa ketika naik MRT. Kuota per hari bagi masyarakat yang ingin mencoba MRT dibatasi. Jadi jika hari yang diinginkan sudah penuh, bisa memilih hari lainnya. Masa uji coba MRT akan berlangsung pada 12 hingga 24 Maret 2019.

Uji coba tersebut diharapkan dapat membantu masyarakat dalam beradaptasi dengan layanan MRT sebelum dibuka secara komersial. Juga masyarakat dapat memberikan masukan kepada pihak pengelola untuk meningkatkan kualitas layanan. Setelah menjajal MRT, masyarakat juga diharapkan dapat memberitahukan kepada kerabat-kerabatnya mengenai pengalaman naik MRT serta ikut serta dalam kampanye naik transportasi umum. Bukan hanya soal kemacetan, dengan beralihnya masyarakat ke transportasi umum juga diharapkan dapat membantu menurunkan polusi udara di kota yang sudah parah.

MRT Jakarta Fase II masih dalam tahap pengerjaan. Gedung-gedung besar di Jakarta juga akan terkoneksi dengan TOD (Transit Oriented Development) yang dikembangkan oleh PT MRT Jakarta. Sudah ada puluhan gedung yang berlokasi di sekitaran jalur MRT fase I, diantaranya gedung Bank UOB, Bank BNI 46, Bank Mandiri, Intiland, dan Indonesia-1.

Targetnya seluruh jalur MRT Jakarta akan terhubung pada tahun 2024. Rencananya MRT Jakarta nanti akan terintegrasi dengan LRT Jabodebek. Dukuh Atas dipilih menjadi titik kumpul transportasi antarmoda yang meliputi LRT Jabodebek, MRT Jakarta, Commutter Line dan Kereta Bandara Soekarno-Hatta. Ditambah empat halte Transjakarta yakni di Blok M, Fatmawati, Lebak Bulus dan Dukuh Atas juga juga akan segera terintegrasi dengan MRT Jakarta.

Untuk LRT Jabodebek sendiri masih dalam tahap pengerjaan. Kabar baiknya, LRT jalur Cawang – Cibubur akan diuji coba Juni 2019. Kereta yang digunakan adalah kereta canggih tanpa kendali masinis. Namun, keberadaan masinis masih dibutuhkan untuk antisipasi jika ada gangguan teknis dan pengoperasian. Di 2020, pembangunan LRT ditargetkan sudah tembus ke Terminal Baranangsiang, Bogor.